BELAJAR NILAI KARAKTER DARI NEGARA JEPANG

Admin Web/ Oktober 22, 2020/ Artikel Dosen/ 0 comments

Oleh : Suarifqi Diantama, M.Pd

Banyak orang punya kisah luar biasa tentang hebatnya rakyat jepang mulai dari kejujurannya, kinerjanya, disiplinnya maupun prestasinya selalu menhadi contoh legenda dunia . Ketika Indonesia sibuk mengejar revolusi industri 4.0, Jepang lebih maju satu langkah dengan kesiapan mereka menerapkan Society 5.0 yaitu bagaimana menikmati hasil dari teknologi itu. Untuk mengejar ketertinggalan dari Jepang yang memasuki era 5.0, Indonesia dinilai masih perlu waktu. Pasalnya, masih banyak kebutuhan dasar masyarakat yang perlu dibenahi. Misalnya saja, transportasi, SDM, hingga infrastruktur.

Berbicara tentang Negara jepang tidak terlepas dari sejarah bangsanya. Mereka dulu pernah dipimpin oleh kaum yang bernama Shogun atau kelompok samurai. Ada kelompok samurai sogun nobu naga, hidoyosi, dan tokugawa.  Kaum samurai membangun karakter rakyatnya dengan cara menjaga kode etik dan nilai-nilai samurainya yang disimbolkan dengan bunga sakura. Mereka mengatakan “diantara bunga-bunga ada bunga sakura dan diantara laki-laki ada samurai”.  Bunga sakura hanya berbunga di bulan april hanya 1-2 minggu dan kembali hilang. Orang jepang berprinsip kehidupan haruslah seperti bunga sakura tetap wangi walau hanya tumbuh sebentar.  Maka rakyat Jepang jika mati selalu ingin dalam keadaan terhormat.  Mereka selalu menjaga nilai-nilai samurai yang ditanamkan yaitu harga diri (meyo),  jujur/sungguh-sungguh (gi) apabila mereka bekerja mengerjakan dengan sepenuh hati, hormat dan santun ( Re), dan kasih saying/cinta (Jin).

Nilai-nilai ini menjadi pondasi yang senantiasa dijaga. Ibarat pohon bambu akarnya tetap tertanam kuat sebelum batangnya muncul. Pondasi ini dalam islam kita kenal dengan Akhlaq. Dalam islam nasihat tersebut tertuang dalam hadis yang berbunyi “ Inama Buistu Liutamima Makarimal Akhlaq” yang artinya sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlaq.

Dari kisah tersebut kita perlu belajar bahwa akhlaq telah terbukti membawa Negara Jepang menjadi Negara yang unggul, Negara yang mampu bersaing secara ekonomi, Negara yang mampu menjaga budayanya. Maka kita bisa belajar dari jepang ambil yang baiknya buang yang buruknya.  Kita yakin dalam ayat alquran bahwa tidak berubah nasib suatu negeri sebelum mereka mengubah jiwa mereka sendiri.

Membangun manusia Indonesia tidak lain melalui jalur pendidikan karena pada hakikatnya pendidikan adalah sarana sentral yang harus dipilih dan ditempuh untuk memperbaiki dan memperkokoh jati diri sebagai bangsa. Pendidikan di Era Revolusi Industri harus tetap menegdepankan pendidikan yang humanis. Pendidikan yang humanis yang diajarkan oleh Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang menekankan pentingnya pelestarian eksistensi manusia dalam arti membantu manusia lebih manusiawi dan berbudaya. Sebagai manusia yang utuh dan mau berkembang harus memiliki daya cipta (kognitif), daya rasa (afektif), dan daya karsa (konatif).  Mudah-mudahan dari kisah negeri jepang dapat mengambil manfaat untuk dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama dala pekerjaan kita. 

Share this Post

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*