MENGHARMONISKAN AGAMA, BUDAYA DAN POLITIK KEBANGSAAN

Admin Web/ Oktober 23, 2020/ Artikel Dosen/ 0 comments

Oleh : Suarifqi Diantama,M.Pd

Eksistensi martabat bangsa adalah dilihat dari totalitas agama dan maksimal dalam berbudaya. Mengutip  sebuah Syair islam berbahasa arab “wa innamal umamul Akhlaqu ma bagiyat fa inhumu dzahabat akhlaquhum dzahabu”. Yang artinya eksistensi martabat sebuah umat tergantung budayanya.  Jika budayanya hancur , martabat umatnya pun akan rendah dan hancur.  Dari syair di atas dapat dimaknai bahwa faktor budaya sangat besar dalam membangun kemajuan sebuah peradaban sebuah bangsa. Sebuah negara yang membangun budayanya dengan kuat  terbukti maju seperti Jepang, China, Thailand dan negara-negara lain. Namun seacara teolgi agamanya mereka jauh dari Islam.

Namun negara-negara  yang kuat agamanya, kuat imannya namun perilaku budayanya hancur  mereka berperang sesama warga sesama agama dan sebudaya seperti Irak, Suriah, Somalia, Lebanon, Libia, afganistan dan negara negara lain. Hal itu akibat negara-negara tersebut gagal menjalankan hidup bersama dalam perbedaan. Mereka melakukan peperangan yang kini sudah berlangsung 40 tahun dan telah menewaskan jutaan orang.  Di tengah bangsa seperti itu akan sulit melahirkan pemikir atau ilmuan besar. Dari peristiwa dan keadaan timur tengah yang terjadi saat ini membuka peluang kemungkinan Indonesia menjadi kiblat kebudayaan , peradaban, karakter umat islam dunia jika kita selalu menjaga totalitas agama dan maksimal dalam mempertahnkan budaya dan jati diri sebagai bangsa Indonesia dengan membangun politik kebangsaan.

Bagaimana membangun politik kebangsaan dengan mengharmoniskan agama dan budaya?

Membangun politik kebangsaan yang dapat kita lakukan adalah dengan cara mempertahankan semanagat perjuangan paham islam ahlu sunah waljamah yaitu islam yang moderat dan toleran. Dengan cara ini kita dapat mempertahankan eksistensi islam terutama di nusantara yang diapit oleh China dan Australia. Islam moderat adalah prinsip alquran.  Dalam alquran berbunyi ummatan wasaton “wakadzlika zaalna ummatan wasaton. Saya jadikan kamu muhammad dengan pengikutmu sebagai komunitasmu yang moderat. Islam moderat yaitu gabungan antara teks agama yaitu quran dan hadis dan akhal. Akal terbagi menjadi dua yaitu kolektif atau ijma konsesus dan qiyas (analogi). Kiyai hasym ashari pendiri NU mengharmoniskan hubungan agama dan politik kebangsaan dengan jargon hubul wathon minal iman. Nasionalisme bagian dari iman. Maka membangun Islam moderat adalah mengharomiskan antara agama, budaya, dan politik kebangsaan.

Share this Post

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*