Meningkatkan Minat Baca Anak PAUD Insan Kreatif Pipitan, Walantaka, Serang-Banten

Admin Web/ September 2, 2021/ Artikel Mahasiswa, Berita/ 0 comments

Oleh : Ermawati (Mahasiswi Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP Banten)

Dongeng dapat menstimulasi keinginan anak untuk membaca. Mereka akan tertarik dengan dongeng yang lain setelah mendengar sebuah dongeng. Setelah mendengar satu dongeng, seringkali anak kemudian tertarik untuk mendengar dongeng yang lain. Kita dapat menggunakan kesempatan ini untuk memperkenalkan buku sebagai salah satu “teman” yang mengasyikkan. Sering-sering mengajak anak ke toko dan membiarkan ia memilih bukunya sendiri, akan semakin membantu menumbuhkan minat baca pada anak. Manfaat lain dari mendongeng adalah membantu anak-anak memperkaya kosakata yang mereka miliki. Selain itu, mendongeng secara tidak langsung menjalin hubungan orang tua dengan anak menjadi sangat dekat. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan deskriptif kualitatif yaitu untuk meningkatkan minat baca anak PAUD INSAN KREATIF yang berlokasi di Kota Serang- Banten. Minat baca anak-anak saat ini belum menggembirakan. Peranan orang tua dan lembaga pendidikan sangat penting untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak.

Untuk mewujudkannya diperlukan berbagai upaya agar anak-anak memiliki budaya gemar membaca. Salah satu upaya untuk menumbuhkan dan meningkatkan minat baca pada anak adalah dengan mendongeng. Pengembangan minat baca yang baik secara teoritis harus dimulai sejak dini mungkin pada masa anak-anak. Keluarga terutama orangtua mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam upaya mengembangkan perilaku gemar membaca pada diri anak-anak. Dalam hal ini, fungsi keluarga bukanlah semata-mata hanya melakukan fungsi reproduksi atau fungsi perlindungan, akan tetapi juga bertanggungjawab melakukan fungsi sosial, termasuk di dalamnya mendidik dan mengarahkan anak agar memiliki jiwa gemar membaca.

Usia lahir sampai dengan memasuki pendidikan dasar merupakan masa emas (Golden Age) sekaligus masa kritis dalam tahap kehidupan manusia yang akan menentukan perkembangan anak selanjutnya. Masa ini merupakan masa yang tepat untuk meletakan dasar bagi kemampuan fisik, kognitif, bahasa, sosial emosional, konsep diri, seni, moral dan nilai-

nilai agama. Sehingga upaya pengembangan seluruh potensi anak usia dini harus dimulai agar pertumbuhan dan perkembangan anak dapat tercapai secara optimal.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan pada anak usia 0 hingga 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan atau stimulus pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. PAUD dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal dan informal. Anak usia dini memerlukan banyak sekali informasi untuk mengisi pengetahuannya agar siap menjadi manusia sesungguhnya. Dalam hal ini membaca merupakan cara untuk mendapatkan informasi karena pada saat membaca maka seluruh aspek kejiwaan manusia terlibat dan ikut serta bergerak.

Hasilnya, otak yang merupakan pusat koordinasi bekerja keras menemukan hal-hal baru yang akan menjadi pengisi memori otak sekaligus menjadi bekal pertumbuhan (Adi Susilo,2011:13). Membaca merupakan cara belajar mandiri untuk dapat memahami suatu pengetahuan. Pada dasarnya pengetahuan-pengetahuan yang ada di dunia ini berawal dari imajinasi dalam pikiran manusia, yang kemudian akan membentuk suatu teori. Imajinasi itu sendiri dapat berasal dari buku bacaan Dengan membaca akan meningkatkan daya pikir dan daya imajinasi otak manusia serta mampu membuat masyarakat menjadi kreatif, kritis dan informatif. Salah satu upaya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa adalah dengan cara menumbuhkan minat membaca.

Banyak orang yang menyebut “Buku adalah jendela dunia”, karena dengan membaca buku ibarat kita sedang membuka jendela untuk melihat berbagai keunikan yang terjadi hampir diseluruh penjuru dunia. Maka untuk memasuki dunia dengan segala panoramanya, orang harus bersahabat dengan buku. Menstimulasi minat baca anak lebih penting daripada mengajarkan mereka membaca. Menstimulasi memberi efek menyenangkan, sedangkan mengajar seringkali justru membunuh minat baca anak, apalagi bila mengajarkannya dilakukan secara paksa (Musfiroh,2008:94). Secara psikologis, efek dari memaksa anak untuk belajar membaca di usia dini seperti TK dan PAUD dapat menimbulkan ketidaksukaan anak untuk membaca di masa depan serta menghambat pertumbuhan otak kanan anak, sehingga dapat membunuh kreatifitas anak.

Oleh sebab itu, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dapat memberi kesan pada anak bahwa mereka bisa menemukan sesuatu yang menyenangkan dalam belajar. Metode

sebaik apapun jika tidak didukung dengan suasana yang menyenangkan akan menyebabkan rasa malas bagi anak untuk belajar. Banyak metode-metode membaca yang rumit yang sering kali membuat anak putus asa karena mereka merasa kesulitan dalam mempraktekannya, sehingga malah menghilangkan optimisme dan minat baca anak.

Perlu diketahui bahwa terkadang minat baca terhambat oleh beberapa hal yang terdapat dari lingkungan yang tidak mendukung dan juga kurangnya fasilitas. Apalagi zaman sekarang pengaruh televisi, game online,dan gadged lainnya yang jika tidak dikontrol dan tidak ada pengawasan dari orang tua, maka dampak negatif yang ditimbulkan akan sangat besar pada perkembangan anak. Banyak aspek perkembangan yang sedang berkembang pada anak usia dini, salah satunya adalah perkembangan bahasa. Perkembangan bahasa memberikan sumbangan yang besar dalam perkembangan anak. Perkembangan bahasa mencakup kemampuan menerima bahasa, mengungkapkan bahasa dan keaksaraan.

Menurut Depdiknas (2002:12), bagi anak usia 5-6 tahun tingkat pencapaian perkembangan dalam mengungkapkan bahasa yang seharusnya dimiliki anak meliputi: mampu menjawab pertanyaan yang lebih kompleks, menyebutkan kelompok gambar yang memiliki bunyi yang sama, berkomunikasi secara lisan, menyusun kalimat sederhana dalam struktur lengkap, memiliki lebih banyak kata-kata untuk mengekspresikan ide pada orang lain, serta mampu melanjutkan sebagian cerita/dongeng yang telah diperdengarkan.

 

Share this Post

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*
*